Instrument Landing System Pada Navigasi Instrument Pesawat Udara

Posted on

#ILS #LandingSystem #Navigation #Instrument #PesawatUdara

Instrument landing system | Instrument landing system (ILS) merupakan instrument elektronika yang fungsi sebagai sistem pemandu pendaratan pesawat udara.

Sistem ini membantu pesawat udara untuk mendarat tepat pada centre line (garis tengah) runway dan dengan sudut pendaratan yang tepat.

  • Pemanduan dilakukan agar pilot mengetahui jarak pesawat terhadap area pendaratan (touchdown zone) pada runway.
  • Pemanduan dilakukan untuk mengatur posisi kanan kiri (center line) pesawat, sehingga dapat landing dengan tepat di garis tengah landasan.
  • Pemanduan dilakukan untuk mengatur posisi atas bawah pesawat, sehingga dapat landing dengan tepat pada sudut ± 30 terhadap landasan.
skema kerja instrument landing system

Berdasarkan fungsi pemanduaan, terdapat tiga komponen peralatan yang terdapat [ada ILS, yaitu : Marker beacon; Localizer; Glide slope.

 1. Marker beacon

Yaitu peralatan navigasi yang memberikan informasi berupa audio dan visual untuk mengetahui jarak pesawat terhadap runway.

marker beacon

Marker beacon terdiri dari OM (Outer Marker), MM (Middle Marker), IM (Inner Marker).

Outer marker (OM)
Outer marker adalah peralatan navigasi yang memancarkan gelombang elektromagnetik untuk memberikan informasi ke pilot bahwa posisi pesawat berada pada jarak 7 – 12 Km dari threshold (ujung runway). Peralatan pemancar outer marker diletakkan pada jarak 7 – 12 Km dari ujung runway, sehingga pada saat pesawat berada tepat di atas outer marker maka pesawat akan menerima informasi bahwa pesawat berada pada jarak 7-12 km dari threshold.

Informasi yang diterima pesawat berupa identifikasi nada panjang terputus-putus (dash tone) (___ ___) secara terus menerus sampai pesawat tidak lagi berada pada pancaran sinyal outer marker atau tidak berada di atas peralatan outer marker.

Selain terdengar dash tone, pilot juga akan memonitor indicator lampu berwarna biru yang akan menyala saat pesawat menerima sinyal outer marker.

Middle marker (MM)
Sama halnya seperti outer marker, middle marker juga memancarkan gelombang elektromagnetik untuk memberikan informasi ke pilot dengan jarak yang berbeda dari OM yaitu 1,050 Km dari threshold (ujung runway). Peralatan pemancar outer marker diletakkan pada jarak 1,050 Km dari ujung runway, sehingga pada saat pesawat berada tepat di atas outer marker maka pesawat akan menerima informasi bahwa pesawat berada pada jarak 1,050 km dari threshold. Pada area ini, pilot harus sudah mengambil keputusan apakah dia sudah siap dan pada posisi yang tepat untuk landing atau tidak. Jika pilot merasa belum siap landing, dia harus segera memutuskan untuk go arround (kembali lagi pada posisi pendekatan).

Informasi yang diterima pesawat berupa identifikasi nada panjang dan singkat bergantian (dash dot tone) (___ o ___) secara terus menerus sampai pesawat tidak lagi berada pada pancaran sinyal middle marker atau tidak berada di atas peralatan middle marker.

Selain terdengar dash dot tone, pilot juga akan memonitor indicator lampu berwarna amber yang akan menyala saat pesawat menerima sinyal middle marker.

Inner marker (IM)
Inner marker, tidak seperti marker beacon lainnya, inner marker jarang dipakai pada bandar udara di Indonesia kerena jarak pandang (visibility) pilot masih relatif baik. Inner marker biasanya digunakan di bandar udara yang berada pada daerah bersalju dan berkabut dimana visibility dekat. Peralatan ini memancarkan gelombang elektromagnetik untuk memberikan informasi ke pilot dengan jarak 450 m dari threshold (ujung runway).

Informasi yang diterima pesawat berupa identifikasi nada singkat terputus-putus (dot tone) (___ o ___) secara terus menerus sampai pesawat tidak lagi berada pada pancaran sinyal inner marker atau tidak berada di atas peralatan inner marker.

Selain terdengar dot tone, pilot juga akan memonitor indicator lampu berwarna putih yang akan menyala saat pesawat menerima sinyal middle marker.

2. Localizer

Yaitu peralatan navigasi yang memberikan informasi mengenai kelurusan pesawat dengan garis tengah landasan

localizer

Localizer bekerja pada range frekuensi 108.00 – 112.00 Mhz, dengan jarak persepuluhan ganjil. Persepuluhan genap digunakan untuk VOR (VHF Omnidirectional Radio Range). Sebagai contoh ILS WIII (kode bandara Sukarno Hatta) runway 07 right memiliki frekuensi localizer 110.50 Mhz, sedangkan frekuensi VOR-nya adalah 113.60 Mhz.

Frekuensi ini dipancarkan oleh antena carrier yang diletakkan di tengah antara antena 150 Hz dan 90 Hz. Antena loop memancarkan sinyal yang kemudian dimodulasikan dengan frekuensi carrier di udara. Modulasi seperti ini disebut Space Modulation. Antena Localizer terdiri dari 16-24 buah antenna loop dan 1 buah antena carrier.

3. Glide slope

Yaitu Peralatan Navigasi yang memberikan informasi sudut pendaratan pesawat ± 30 terhadap runway. Glide slope berfungsi untuk mengarahkan pesawat agar dapat mendarat pada sudut luncur tertentu secara aman sehingga terhindar dari kemungkinan ‘Overshoot’ maupun ‘Undershood’.

glide slope

Peralatan navigasi glide slope tidak jauh berbeda dengan localizer pada bentuk modulasi dan frekuensi loopnya. Glide slope juga memancarkan frekuensi carrier dan loop. Glide slope memberikan informasi sudut pendaratan 30 dengan mengkombinasikan frekuensi loop 150 Hz dan 90 Hz menggunakan 2 buah antena vertikal dalam 1 buah tiang. Sudut 30 dihasilkan jika loop 150 Hz sebanding dengan 150 Hz.

Kedua frekuensi ini akan dibandingkan setelah diterima oleh pesawat udara untuk melihat apakah pesawat sudah memmbentuk sudut 30 atau belum. Indicator yang terlihat di cockpit pesawat berupa jarum sebagai tanda sudut 30.

Jika pesawat mendapatkan frekuensi loop dominan 150 Hz, jarum akan bergerak ke atas, artinya sudut pendaratan pesawat terlalu rendah atau peswat talu rendah untuk landing, maka pilot harus menaikkan pesawat sampai jarum tepat di tengah. Begitu juga sebaliknya jika pesawat mendapatkan frekuensi loop dominan 90 Hz, jarum akan bergerak ke bawah, artinya sudut pendaratan pesawat berada terlalu besar atau pesawat terlalu tinggi untuk landing, maka pilot harus menurunkan ketinggian pesawat sampai jarum tepat di tengah.

Saat komposisi frekuensi loop 150 Hz dan 90 Hz seimbang, artinya pesawat berada pada sudut pendaratan yang aman (tepat) dan pesawat sudah dalam posisi yang benar untuk landing.

Antena glide slope dipasang 3 buah bertingkat vertikal, 1 buah antena carrier dipasang diantara 2 buah antena loop seperti gambar di bawah.

Baca juga artikel yang membahas tentang Electronic Flight Instrument System ( EFIS ) Pada Cockpit Pesawat agar lebih banyak referensi materi tentang aircraft instrument.

Gravatar Image

Belajar dan berusaha untuk berguna bagi sesama | Saling berbagi yuk